20 yang ke-20

20 Maret 2017

Hari ini adalah hari ulangtahun saya. Di tanggal 20, di umur yang ke 20 juga. Satu-satunya hal terspesial di ulangtahun saya yang ke 20 ini adalah, saya sempat merasakan ulangtahun di rumah, meski hanya 6 jam saja. Karena jam 7 pagi saya sudah harus ke stasiun mengejar kereta pagi tujuan Surabaya. Ya. Kembali ke Surabaya, rumah sekunder saya.

Meski spesialnya nggak banyak, tapi saya punya ikatan emosi tersendiri di hari ulang tahun. Apalagi hari ini saya menginjak usia kepala dua. Saya selalu ber muhasabah di hari ulang tahun. Membayangnkan hal-hal baik apa saja yang telah saya lakukan sebelumnya, dan hal apa saja yang belum saya lakukan.

Mengingat tahun ini saya berumur 20, jadi muhasabahnya semakin plus-plus.

Entah kenapa, buat saya, ulangtahun ke 20 itu perlu dirasakan atmosfernya. Hei, kita sudah bukan anak remaja lagi. Kita sudah mulai memasuki tahap dewasa awal. Yang mana sudah mulai mengenal hal-hal yang biasa dilakukan orang dewasa. Mencari pekerjaan dan jodoh misalnya. Hanya tinggal hitungan jari saja, 20 tahun akan segera berubah menjadi 25 kemudian berubah menjadi bayangan keluarga baru.

Dan yang paling saya pikirkan sambil menginjak tahun ke 20 ini: orangtua saya.

Saya nggak tahu mereka punya perayaan seperti apa, tapi mampu membesarkan anak hingga 20 tahun begini sudah prestasi, loh.

Orangtua saya sudah banyak memberikan apapun untuk saya, demi kesejahteraan hidup anak sulungnya ini. Sehingga mengingat hal yang begitu, membuat saya sedih: lantas, apa yang sudah saya berikan pada mereka? Sudah cukupkah?

Saya selalu berpikir bahwa saya belum mampu memberikan apapun untuk kedua orangtua saya. Yang demikian membuat saya selalu merasa sedih di hari ulang tahun, membayangkan banyak sekali hal yang belum saya berikan kepada mereka.

Menginjak kepala dua artinya menginjak tahap persiapan dimana nanti, terurama bagi yang perempuan, sudah harus melepaskan diri dari keluarga orangtua dan meminta ijin untuk membangun keluarga sendiri. Jujur, kalau soal ginian, saya nggak kuat mikirnya. Terlalu perih dan … um, nggak rela.

Saya bahkan, menurut saya sendiri, belum pantas menjadi perempuan berkepala dua. Perangai orang 20 tahun itu belum bisa saya terapkan. Berkepala dua artinya dewasa. Sehingga, sikap kedewasaan pula yang dituntut di usia ini. Meanwhile, saya belum bisa nyetir. Fyi, salah satu indikasi dewasa buat saya: mampu mengendarai mobil. Dan saya belum memiliki indikator tersebut. Hehe. Jadi dewasa perlu belajar ya rupanya.

Buat saya, bersyukur adalah hal yang tepat untuk dilakukan di hari ulang tahun (oke, bersyukur memang harus dilakukan kapanpun). Bersyukur karena Allah sudah memberikan saya kesempatan hidup segini lamanya, hingga menginjak tahun ke 20 saya di bumi. Bersyukur telah dibesarkan oleh orangtua yang begitu luar biasa sehingga saya bisa berkembang sebaik ini. Bersyukur bahwa saya masih diberi kesempatan untuk beribadah lagi dan menabung untuk bekal pertolongan di akhirat kelak. Bersyukur karena saya masih diberi kesehatan sampai sekarang sehingga kegiatan beribadah pun mestinya tidak terhalang. Sekali lagi untuk orangtua saya, bersyukur telah dikaruniai mereka berdua hingga detik ini, yang doa-doa baik untuk anaknya selalu dipanjatkan, dan selalu saya aminkan. Sesungguhnya teman, ingatlah bahwa ridho orangtua adalah ridho Allah. Mematuhi segala perintah dan larangan orangtua merupakan salah satu cara agar kita selalu mendapatkan ridho dari Allah di setiap hela napas kita.

Sehingga, kesempatan hidup sampai 20 tahun begini, mestinya menjadi cerminan diri bagi saya. Saya harus rajin ibadah, semakin mendekatkan diri pada Allah, nggak lagi merepotkan orangtua. Sesungguhnya dengan cara seperti itu, sama saja dengan mensyukuri nikmat kesempatan hidup. Dan, Allah selalu menghargai rasa syukur yang kita panjatkan. Karenanya, Dia tidak akan ragu memberi nikmat yang berlebih saat kita pandai bersyukur.

Sedikit cerita, di ulangtahun saya yang ke-20 ini, nggak banyak momen yang spesial. Saya selalu berusaha menangkap momen spesial di hari ulangtahun saya (meski momen tersebut bukan milik saya sendiri). Saya datang dari stasiun pagi-pagi langsung menuju ke kampus karena takut telat. Jadilah saya bawa barang-barang dari rumah ke kampus juga. Mana saya pakai sandal pula. Sandal tali dan terbuka. Kostum kampus ter-salah yang pernah saya pakai.

Ucapan-ucapan dari teman-teman terus menghiasi hari saya. Saya super senang kalau ada yang mendoakan meski hanya melalui chat karena tidak bisa langsung bertemu. Untuk teman-teman yang telah tulus mendoakan saya, saya selalu berharap doa-doa kebaikan tersebut agar balik lagi ke teman-teman yang mendoakan. Agar kita sama-sama menjadi orang yang lebih baik.

Terus sorenya, saya dan kelompok tugas memutuskan untuk kerja kelompok di salah satu cafe di Klampis. Waktu Maghrib, karena tidak ada mushola di cafenya, jadi saya dan teman berjalan beberapa langkah menyebrangi jalan menuju SPBU di depan cafe. Saya terjatuh di depan kamar mandi saat setelah wudhu, di depan penjaga kamar mandi dan orang lain. Asli menyakitkan. Menyakitkan lahir dan batin. Oh, hari saya mengapa begini.

Malamnya, saya minta ditemani salah satu teman saya untuk menengok keadaan lapangan kampus di malam hari. Kami berdua mengeluh setelah menemukan bahwa kondisi lapangan tersebut buruk. Nggak tahunya, setelah berjam-jam berdiskusi membahas keadaan lapangan yang kurang meyakinkan dan bikin saya nggak semangat, tiba-tiba saya dan teman menemukan lapangan yang seharusnya kami tengok malam ini. Jadi ceritanya, kami salah target lapangan. Dan lapangan yang seharusnya kami tengok memang sudah dalam keadaan sangat baik dan tidak perlu dikeluhkan. Saya dan teman menghabiskan waktu untuk tertawa, merayakan kebodohan yang telah kami lalukan.

Begitulah kisah ulangtahun saya. Semoga kedepannya lagi, saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan hamba-Nya yang lebih taat. Amin.

Selamat ulangtahun yang ke-20, Teman-teman 97 lainnya! Kita sudah melalui tahap remaja dengan baik, Teman-teman. Saatnya meninggalkan masa remaja dan melangkah ke tahap yang lebih tinggi, tahap dewasa. Semoga di tahap dewasa awal ini, kita bisa menjalankannya dengan lebih baik lagi. Semoga kita bisa semakin menjadi pribadi yang lebih dewasa dan menjadi hamba-Nya yang semakin taat.

“Amin”

Advertisements

2 thoughts on “20 yang ke-20

  1. Selamat ulang tahun dea!
    Yeah soal pantas-gak pantas, aku pun merasa gak pantas menginjak usia 20. Oh my god, aku harusnya 17 atau mungkin 7. Setuju! Ulang tahun emang selalu jadi momen emosional. Saat dimana kamu mulai ngitung-ngitung kontribusi apa yang udah kamu lakukan buat sekitar, minimal buat diri sendiri :’) Hats off and give a shout buat para orangtua yang sudah membesarkan anak-anaknya sampai setua ini. Semoga kita kelak bisa jadi kayak mereka atau lebih baik lagi, amin.
    Selamat ulang tahun dea! Keep being awesome as you are!

    • Makasih banyak Destia ku! Aku selalu banyak mikir di momen-momen kayak gini. Semoga nggak cuma dipikirin ya, tapi dilakukan juga 🙂 Semoga kita sama-sama bisa jadi anak dewasa yang baik ya hehe. Semakin dewasa dan mandiri. Barakallah Destia!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s