Novel Tere Liye yang Terlewatkan

Bagi penggemar penulis Tere-Liye, pasti nggak mungkin dong ketinggalan satu pun novelnya yang selalu penuh pesan berharga di dalamnya. Saya nggak pernah nggak suka sama karya Tere-Liye. Cerita yang dia buat selalu kompleks dan penuh kejutan. Dan menyentuh. Plus adanya sentuhan humor yang selalu sukses bikin saya senyum-senyum setiap baca novelnya.

Tapi tahukan kalian, bahwa ada satu novel Tere-Liye yang terlewatkan? Selama ini menunggu lahirnya ‘Bintang’ membuat saya terlena oleh penantian. Bagaimana munkin novel Tere-Liye ada yang terlewatkan?!

andy-dwyer-shock

[Buku] Tentang Kamu – Tere-Liye

wp-1487291096724.jpg
Terimakasih atas kerjasamanya untuk sepatu Papa. Ternyata nemu yan warnanya sama kayak di sampul, hehehe.

 

Iya, yang kelewatan itu saya! Aduh, saya baru tau kalau di antara ‘Matahari’ dan ‘Bintang’ (yang masih belum terbit) bakal lahir duluan ‘Tentang Kamu’ 😦 Saya sedih karena saya baru tahu minggu lalu, alias awal bulan Februari tahun 2017, meanwhile novel ‘Tentang Kamu’ ini sudah terbit di bulan Oktober 2016 silam. Kisah saya menyedihkan ya? Lebih sedih daripada Rajendra Khan yang nggak laku-laku. Maafkan saya Bang Tere yang nggak becus jadi penggemar karya-karya sampeyan. Maka dari itu, setelah beli, langsung saya kebut bacanya untuk segera bikin konten di blog.

Seperti itulah kondisi buku saya saat ini: sampulnya sudah kelipet-lipet.

Baiklah. Sebelum membahas isi cerita, ada baiknya kita bahas dulu bentuk fisik novel ‘Tentang Kamu’. Novel ini memiliki tebal 524 halaman, beda sedikit dengan novel ‘Rindu’ yang terbit di bulan Oktober 2014 dengan jumlah 544 halaman. Penerbitnya Republika, seperti penerbit novel-novel Tere-Liye sebelumnya.

wp-1487291092342.png

wp-1487291088058.jpg

Nah, ini yang paling saya suka, nih: ngomongin sampulnya! Sebenernya kalau boleh jujur, belakangan ini desain sampul novel Tere-Liye (terus terang) kurang menarik (buat saya pribadi). Jadi kalau pernah dengar istilah ‘don’t judge the book by its cover’, mungkin saya akan dengan semangat berdiri di barisan penentang. Saya nggak setuju sama istilah itu. Karena untuk menilai sesuatu secara keseluruhan, yang dinilai paling awal ialah bagaimana sesuatu itu terbungkus atau terlihat. Setelah mengetahui bungkusnya, barulah kita bisa tahu isinya.

Apalagi soal buku. Wah, kalau terus menolak prinsip ‘don’t judge the book by its cover’, mungkin saya nggak akan pernah beli novel Tere-Liye, hehe. Saya paling suka lihat novel yang sampulnya menarik perhatian. Kalau boleh saya sebutkan, dulu saya tertarik banget sama sampul novel  serial Supernova karya Dee yang masih edisi gambar lambang-lambang doang di sampulnya dan serba hitam, misterius. Menurut saya, itu mengundang rasa penasaran pelanggan untuk segera membeli dan membacanya sampai habis. Urusan bagus enggaknya isi cerita, itu belakangan. Yang penting laku dulu. Ya kalau novelnya tante Dee sih nggak usah ragu lagi ya. Udah sampulnya unik, isinya juga nggak kalah cantik. Ada juga tuh novel yang sampulnya pakai bahan kain segala bahkan kulit. Wah, apa nggak gemes banget nih yang lihat. Gimana nggak tergoda ingin memiliki kalau sampulnya nggemesin.

Tapi, tidak untuk novel Tere-Liye. Meskipun sampulnya kurang menarik (terutama buat saya), novel Tere-Liye nggak pernah absen mendapatkan gelar best-seller alias selalu laku. Kalau sudah bawa nama Tere-Liye, wah saya nggak peduli mau sampulnya cuma tulisan doang atau nggak ada gambarnya pun, novel Tere-Liye selalu yang pertama saya cari di toko buku. Istilahnya sih, saking beliau ini sudah langganan bikin novel bagus, bahkan nggak perlu susah-susah menarik perhatian lewat sampul yang cantik, novel Tere-Liye selalu dinanti.

3gkmk

Kalau dilihat-lihat juga, judul di novel-novel Tere-Liye itu emang agak kurang nyambung sama isi ceritanya. Bukan kurang nyambung sih, lebih ke “tersirat”. Kayak novel terbarunya belakangan ini, ‘Rindu’ dan ‘Pulang’. Lebih-lebih yang serial petualangan Raib dkk, judulnya ‘Matahari’ setting tempatnya di Klan Bulan. Novelnya yang ‘Tentang Kamu’ ini juga. Saya kira bakal murni genre romance, ternyata enggak. Lagi-lagi Tere-Liye selalu berhasil bikin pembacanya berlarut dalam emosi dengan cerita yang kompleks: romance ada, persahabatan ada, kekeluargaan ada. Perfect.

‘Tentang Kamu’ ini bercerita tentang seorang pengacara asal Indonesia bernama Zaman yang sudah lama menetap di London dan bekerja di firma hukum di sana. Tiba-tiba dia dapat tugas menyelidiki ahli waris salah seorang wanita lanjut usia asal Indonesia yang beberapa hari lalu meninggal di Paris, bernama Sri Ningsih. Harta kekayaan wanita ini besar sekali nilainya, namun tidak ada petunjuk jelas tentang kemanakah harta tersebut akan diwariskan. Di sinilah, Zaman bergerak menyusuri kehidupan masa lalu Sri Ningsih mulai dari kampung halamannya di Indonesia sampai ke Paris. Satu persatu masa lalunya terungkap sampai akhirnya Zaman berhasil menemukan ahli waris yang sah atas kekayaan Sri Ningsih yang berlimpah.

wp-1487291084789.jpg

wp-1487291072852.jpg

Gaya bahasa Tere-Liye selalu khas. Juga gaya berceritanya. ‘Tentang Kamu’ ini unik, saya suka alur maju-mundur nya yang tertata dengan rapi sehingga saya nggak bingung memahami maksud yang ingin disampaikan. Bagi saya, nggak mudah bikin timeline kehidupan tokoh cerita yang membawa-bawa masa lalu. Umur para tokoh, latar waktu kejadian, durasi kejadian, semua detail dijelaskan secara bagus dan rinci. Pokoknya cerita Bang Tere-Liye ini bisa banget mainin emosi pembaca. Pesan-pesannya selalu berharga.

Diam-diam, ternyata novel Tere-Liye belakangan ini ada di dalam dimensi yang sama! Buat kalian yang udah baca ‘Rindu’, pasti nggak asing deh denger nama kapal Blitar Holland yang disebutkan di ‘Tentang Kamu’. Iya! Itu nama kapal haji yang diceritakan di ‘Rindu’ yang terbit tahun 2014 silam. Kaget sendiri pas baca wkwk. Nama kaptennya juga sama, kapten Phillips. Seru nih!

tumblr_lm11bt4oak1qe6xr2

Cerita-cerita Tere-Liye tuh kayak punya warna yang sama. Beberapa novelnya belakangan ini, selalu ada topik perekonomian yang nggak pernah saya ngerti maksudnya. Perekonomian dan beberapa sentuhan kisah politik. Mungkin karena Bang Tere punya latar belakang yang nggak jauh dari situ ya. Sebenernya saya nggak pernah tertarik sama topik yang sejenis itu. Tapi karena Bang Tere menyampaikan di novelnya secara apik, kadang-kadang malah jadi ilmu tambahan buat saya yang nggak begitu tertarik sama politik dan ekonomi. Seenggaknya saya punya bekal dikit buat bahas ekonomi. Ekonomi perputaran uang kos misalnya.

Selain itu yang saya suka dari novel Bang Tere ini, benar memang pembaca diajak keliling menonton kejadian yang memilukan, trus emosi kita bercampur dari marah hingga nangis. Kadang nggak tega pas lagi emosi-emosinya tapi buku malah tinggal beberapa halaman lagi udah tamat. Tapi di beberapa novelnya, Bang Tere menutup ceritanya dengan epilog yang indah sambil menambah beberapa sentuhan humor, semacam ada plot twist dikit. Saya yang awalnya nangis terharu, marah, sedih novel ini berakhir, jadi senyum-senyum lagi begitu baca epilog di halaman akhir. Menyembuhkan.

wp-1487291081141.jpg

Terakhir nih, ada beberapa typo di buku Bang Tere, hehehe. Di ‘Rindu’ juga pernah saya nemu. Tapi udah lupa. Nah yang di ‘Tentang Kamu’ aja nih yang masih fresh. Di halaman 26 baris 10 (“maaf aku masuk tanpa menekan bel, aku tidak menemukannya di pintu depan. Saya hendak menemui …”) Nah, ini, seharunya bilangnya ‘saya’, tapi di sini malah jadi ‘aku’. Trus di halaman 96 baris ke-1. Ada tulisan ‘Sri Rahayu’ di sana, yang mungkin seharusnya jadi ‘Sri Ningsih‘.  Udah sih saya cuma nemu dua. Selebihnya, keren lah Tere-Liye. Nggak pernah gagal bikin kita nangis bareng ketawa bareng dengan tokoh dan alur yang dia ciptakan.

Ohya satu lagi, kalau saya disuruh kasih alternatif judul, mungkin ‘Tentang Kamu’ ini bakal saya ganti judulnya jadi ‘The Heirs’, sambil bayangin mukanya Lee Min Ho.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s