[Buku] Inteligensi Embun Pagi (Dewi Lestari): 15 Tahun Menantimu, Love.

Mana suaranya pembaca Supernova, woohoo!

What a relief, serial terakhir penutup lima belas tahun perjalanan Supernova akhirnya lahir juga. Kita mungkin udah nggak sabaran banget ya. Saya juga nunggu-nungguin meskipun saya bukan pengikut Supernova yang sejak awal banget dari tahun 2001. Saya baru kenal Supernova saat serial keempatnya terbit: Partikel. Mungkin akan lebih what-a-relief lagi buat yang ngiktin sejak awal. Bahkan nungguin vakum dari Petir ke Partikel selama 8 tahun pasti nggak mudah buat yang sudah ngikutin sejak awal.

IMG_6793

Waktu itu saya pesan pre order gara-gara teman saya bilang kalau bukunya belum terbit, tapi lagi buka pre order buat edisi tanda tangan. Langsung saja hari itu, hari terakhir pre order, saya pesan di salah satu toko online. Tapi ya emang lagi apes aja, karena pesennya juga mepet-mepet, jadi edisi tanda tangannya nggak kebagian.

Tante Dee saya maunya foto bareng tapi 😦

Kayak Elektra aja ya ngomongnya saya-an wkwk. Aduh Elektra selalu bikin ngakak. Dari semua serial, saya paling suka Petir, karena Elektra.

Novel Supernova ke-6 ini judulnya Inteligensi Embun Pagi. Sampai selesai bacanya pun saya belum bisa nyangkutin judul sama isi novelnya hehe. Ada yang tau mungkin? Tapi setelah baca blognya sang penulis, ya adalah secercah jawaban buat saya.

Di novel ini, semua tokoh-tokoh yang sudah diceritakan di novel-novel sebelumnya, akhirnya bertemu. Dengan canggung-canggung baru kenal, mereka berusaha menyelesaikan misi. Saya suka ide Tante Dee bikin serial novel kayak gini. Dari lima novel sebelumnya nggak ada sangkut pautnya antar-novel. Barulah di novel terakhir semuanya saling berkaitan. Seru lah pokoknya. Saya selalu pengen bisa menciptakan alur yang cantik macam ini tapi gagal terus. Alamak jang.

Tante Dee menciptakan karakter-karakter yang selalu akan sama apabila para pembaca merealisasikan mereka ke dalam wujud imajinasi. Gimana menurut kalian? Kalau saya bisa banget bayangin Alfa berbadan besar gagah gitu, Bodhi yang kurus botak, Zarah perempuan kuat juga cantik, Elektra si muka oriental yang lugu, dan Gio yang, gada deskripsi yang lebih meyakinkan daripada ganteng ala Irma, asistennya Ferre.

IMG_6796
Tebal ya

Di akhir, saya sangat tersentuh dibagian Alfa-Toni. Wah, gimana ya ini, jangan-jangan ada yang belum baca ya? Nanti saya spoiler dong 😀

Saya suka pertemuan mereka: Alfa, Bodhi, Elektra, Gio, Zarah, dan Toni. Saya suka kedekatan Alfa dengan Bodhi. Seperti kakak dan adik. Kedekatan Gio dan Zarah apalagi. Bikin baper. Juga kedekatan Toni dan Elektra yang hadir sebagai bumbu humor. Semua tokoh di novel-novel sebelumnya akan hadir, minimal dijelaskan di buku ke 6 ini. Bahkan saya sampai lupa dengan eksistansi Aki Jembros yang tiba-tiba diingatkan oleh Elektra kembali.

Sayangnya, salah satu Peretas harus mengakhiri hidupnya di dunia nyata. Di situ saya jadi emosional. Saya ikut sedih. Perjuangan mereka. Nggak taunya harus mengorbankan satu teman demi kesejahteraan.

Ngomong-ngomong, saya belum tau juga sebenarnya yang terjadi dengan Bintang Jatuh. Kenapa dia hilang? Kenapa dia nggak berwujud manusia kayak Peretas lainnya? Sempat. Tapi cuma sebentar.

Nggak tega saya menghabisi buku ke 6 ini. Rasanya tokoh-tokoh di Supernova benar-benar nyata. Karena memang setting tempatnya sudah familiar mungkin untuk kita. Apalagi yang tinggal di Bandung atau Jakarta atau Bogor. Saya ingin bertemu dengan Zarah. A woman who has everything. Oh, Elektra juga! Dan Alfa. Dan Gio. Dan semuanya. Aki Jembros leh uga.

Untuk review nya, kekurangannya mungkin menurut saya di sampulnya ya. Warnanya putih gitu, nggak kayak novel Supernova yang sebelumnya serba hitam dan selalu mengundang rasa pensaran. Mungkin karena pembaca akan secara otomatis memburu novel terakhir, jadi nggak perlu bikin sampul yang ngundang penasaran kali ya wkwk. Saya suka efek hologram di lambangnya Permata (harus baca sampai akhir dulu). Cuma saya tetep suka kesan misterius dari sampul-sampul Supernova yang sebelumnya.

Ohya, ada miss-editing di halaman 525, pas bagian Pak Kas ngomong,: Bagiku, Firas juga sahabat baik. Itu kan klimat langsung, tapi gak ada tanda petik di awal kalimat Pak Kas. Adanya di akhirnya. Yeah, gitu doang.

Intinya saya senang sudah baca Supernova sampai akhir. Saya selalu suka gimana Tante Dee bikin tulisan dengan bahasa yang ilmiah banget. Jujur saya kadang nggak ngerti maksud pembicaraan para tokoh wkwk. Tapi saya tetep suka.

Anyway, barusan juga saya baca semacam hasil wawancara mengenai buku Inteligensi Embun Pagi ini di bloh Tante Dee. Bisa klik di sini, barangkali pertanyaan-pertanyaan pembaca bisa terjawab.

Sukses terus Tante Dewi Lestari.

Selamat menikmati, Para Pembaca Supernova!

Tulisan ini bermanfaat? Klik tombol ‘share’ di bawah agar teman-teman kamu tau!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s