Book Review: Hujan (Tere-Liye)

Tere Liye adalah salah satu penulis favoritku. Yang lagi aku tunggu-tunggu nih novel serialnya yang Bumi, sudah ada Bulan, mungkin habis gini Matahari.

Beberapa bulan yang lalu di tahun 2015, Tere Liye barusan ngeluari novelnya dengan judul “Pulang”. Trus dalam waktu dekat, Januari kemarin dia udah ngeluarin lagi “Hujan”. Berubu-tubi pemirsa. Mau baca yang mana dulu? Monggo.

Kemarin aku barusan selesai baca yang Hujan. Dan seperti biasa, Tere Liye selalu bisa bikin pembaca meresapi tiap kalimat sederhana yang dibangun. Dia selalu punya ciri khas di penulisannya. Nah, aku mau ngasih bocoran dikit tentang novel terbaru Tere Liye.

img_6634r

 

Setting waktu di novel ini adalah masa depan. Kurang lebih 30 tahun ke depan. Di mana teknologi dan peradaban manusia semakin canggih. Novel ini bercerita tentang kisah cinta Lail dan Esok, yang dipertemukan saat bencana alam mengerikan menimpa negri tersebut saan mereka berusia 13 dan 15 tahun.

Sebagai anak yang kehilangan keluarganya, mereka hidup bersama di tenda pengungsian darurat. Hari-hari mereka habiskan bersama sampai negeri tersebut stabil dan mulai melakukan membangunan ulang. Saat itu kemudian Lail dan Esok terpisah. Karena Esok adalah anak laki-laki yang pintar, dia diadopsi oleh keluarga kaya raya, sementara Lail bersama anak-anak sebatang kara lainnya tinggal di panti sosial.

Akankah mereka bertemu kembali?

Novel ini bercerita banyak hal. Tentang keluarga, sahabat, dan cinta. Ada peryataan yang aku suka di novel ini.

img_6630

 

“Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan.”

Lail merasa tersakiti. Dia tidak tahu tentang perasaannya kepada Esok, juga perasaan Esok kepadanya diusia mereka yang menginjak kepada dua. Sedangkan bumi dalam keadaan kritis, Esok justru tidak mengabarkannya apapun. Lail yakin bahwa Esok hendak pergi bersama dengan anak perempuan dari keluarga angkatnya. Lail yang susah payah melupakan Esok, akhirnya memutuskan untuk menggunakan teknologi canggih masa itu yang mampu menghapus kenangan buruk seseorang sehingga ia tidak merasa sedih karena tak memiliki ingatan apapun tentangnya.

Apakah Lail benar-benar menghapus ingatannya? Apakah Esok tidak mempunyai perasaan apapun kepada Lail?

Novel ini keren kalian harus baca!

img_6632

 

Tebalnya kurang lebih segitu. Kalau dibanding yang “Pulang”, novel ini lebih tipis. Kemarin aku baca seharian sudah selesai hehe karena penasaran setengah mati.

Go to your favorite bookstore and find this!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s