Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

19.06

Tepat pada adzan Isya’, aku tiba-tiba inget pengen nge-post soal film yang tadi aku tonton sama Ane dan Mama: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Sebelumnya maaf buat yang ngeklik “Continue Reading” dengan harapan bisa baca ringkasan film yang baru aku tonton. Tapi sebenernya aku bukan mau nulis soal ringkasannya. Cuma sekilas aja. Wkwkwk.

Bagus. Mengharukan. Kayak Ayat-Ayat Cinta.

Yap, di sini kita bisa nemu sepasang pemain film profesional yang pernah kita temui sebelumnya di 5cm: Adinda dan Zafran. Namun di film yang diangkat dari novel karangan Buya Hamka ini, mereka akan kita kenal sebagai Hayati dan Zainudiin.

Tepat!
Herjunot Ali dan Pevita Pearch kali ini main bareng lagi. Ada Reza “Habibie” di sana. Ada personilnya Nidji juga yang aku nggak tau namanya, berperan sebagai Bang Muluk. Bang Muluk di sinilah yang bertugas menghidupkan sedikit sensasi humor di film ini. Kenapa sedikit? Soalnya setiap detiknya kayaknya ceritanya sedih melulu.

Wes mbrabak malah.

Dan spesialnya lagi, film ini berlatarkan kehidupan masyarakat Minangkabau. Lumayanlah, dapet sedikit pengetahuan tentang kampung nenek moyang :3

Biasanya kan marga-marganya orang itu nurun dari Ayahnya, kalau di Padang beda. Garis keturunannya lewat Ibu. Iya, marganya pake suku Ibu. Kalo orang-orang barat kan enggak. Biasanya nama belakang anaknya sama kayak nama belakang Ayahnya. Tapi kalo orang Minangkabau, nurunnya dari suku Ibunya.

Aku juga punya nama suku 🙂 Nama suku yang diambil dari garis keturunan Ibu alias dari Nenek. Iya, nenekku orang Padang. Kakek juga. Tapi yang ngikut jadi nama marga suku adalah suku dari nenek bukan dari kakek. Gak paham? Sabar ya.

Di sini dikenalkan sedikit adat orang Minang. Lihat kan rumah gadangnya? Iya, rumah yang ada “tanduk” di atepnya. Dulu pas sempet ke Padang, sempet juga masuk ke rumah gadang yang dikembangkan jadi museum di sana. Berbekal penjelasan penjaga museum yang ngomong pake logat Padang – yang aku gak ngerti jelas – dikit-dikit aku mulai paham. Di dalam rumah gadang itu ada jumlah kamar yang ganjil KALO NGGAK SALAH. Yang jelas, di dalam rumah gadang itu ada beberapa kamar. Satu kamar untuk satu keluarga. Selanjutnya aku lupa hehe :B

Kayak yang ada di cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, di sana kan ceritanya Zainuddin (Herjunot Ali) ditolak mentah-mentah untuk menikahi Hayati (Pevita Pearch). Di sini Hayati punya keturunan yang murni Minang sedangkan Zainuddin enggak. Soalnya ayahnya yang keturunan Minang nikah sama Ibunya yang orang Makassar. See? Jelas kan kalo suku orang Minang ditarik dari garis keturunan Ibu. Karena Ibu Zainuddin bukan orang Minang, jadi dia dianggap bukan orang Minang dan ditolak keluarga Hayati untuk menikahinya.

Sedih wes ceritane.

Siang itu pas ngantri di 21 ada opsi 4 film. Yang pertama ya film tadi itu, trus Laskar Pelangi 2: Edensor, 99 Cahaya di Langit Eropa, dan satunya lupa.

Di film ini kita bisa ketemu “suara”nya Nidji, hehe. Dia nyanyi “suuuuuumpaaaaaaaaaah, sumpah mati…..”
Yeah as you know, lagunya juga miris. Tapi rada kontras sih antara genre lagu dan film wkwk. But keren kok. Sound effect nya apalagi. Bikin mrinding plus mbrabak. 

Udah, itu aja.
Trus ini aku lagi baca Catching Fire-nya Suzanne Collins. Yep, trilogi kedua dari Hunger Games. Gak penting seh. Tapi aku mau curhat: AKU BINGUNG MOCONE. Buat mahami maksud kalimat dalam satu baris aja belum tentu nangkep dengan cepat. Aku ae ngulang-ngulang baca satu paragraf -_- Halah gak popo wes, lumayan ada refrensi dikit-dikit sebelum diberi penerangan lewat filmnya. Sekalian nunggu film versi jernihnya keluar hehe.

Oke, mau lanjut baca lagi.
See ya!

Graha Deak, 19.41

Advertisements

2 thoughts on “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

  1. saya blm nntn filmnya. oh ceritanya berasal dari minangkabau, kirain jakarta punya. kalo saya lg baca trilogi terakhirnya hunger games, mockingjay. emg kalo baca itu harus berulang-ulang biar nangkep soalnya saya juga demikian XD btw salam kenal ya :))

    • iya dari judul film nya aja udah keliatan kalo itu cerita lama. rata-rata sastrawan lama asalnya dari Padang. Wah, saya juga baru aja selesai baca Catching Fire, pengen segera baca yang Mockingjay 😀
      Trimakasih atas kunjungannya, salam kenal kembali 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s